Jumat, 07 Juni 2013

"Let Rusa dan Meu Awe........."


berburu rusa di hutan

Let rusa bahasa Aceh, populernya berburu rusa. Sedangkan meu awe perkerjaan mencari rotan. Kedua-duanya lokasi tetap masuk hutan keluar hutan. Bagi sebagian masyarakat, budaya let rusa sudah menjadi tradisi, dagingnya untuk dikonsumsi dan tanduknya menjadi hiasan dinding. Sedangkan meu awe bagian dari mata pencaharian para penduduk daerah tertentu.

Tarek Pukat........


tarik tambang
MASIH ingat Syeh Lah Banguna? Dialah Syeh Seudati yang menciptakan sekaligus mempopulerkan lagu dan tarian tarek pukat. Tiap pementasan, baik di tingkat nasional maupun internasional, Syeh mampu membuat penonton terhipnotis, bahkan kadang-kadang histeris.

Aksi panggung Syeh Lah mengundang decak kagum. Pasalnya, sambil memetik jari memukul dada, dia sangat atraktif berlenggak-lenggok di atas panggung. Dengan penuh semangat ia dendangkan berbagai jenis syair lagu Aceh.
Begitulah tiba-tiba, Syeh Lah Banguna berteriak di atas panggung sambil mengangkat tangkuloknya dengan tangan kanan melambai-lambai penonton. Dengan suara kerasnya, berteriak; rendokkkk… rendokkk…! Rendok artinya ke kanan…ke kanan…ke kanan.

Kamis, 06 Juni 2013

"KHITTAH"



Katika Gus Dur menyebut kata itu, ia tidak bermaksud meberikan "kartu merah" kepada "pemain" yang melangar aturan dalam sebuah "pertandingan". Sebab, pada era tahun 1980-an semua permainan harus merujuk kepada titah penguasa era itu. Ketegasan Gus Dur alias KH Abdurrahman Wahid sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Nahdhatul Ulama (PB-NU) dilapangan kebijakannya sangat jelas, yaitu kembali ke KHITTAH agar permainan tidak terjadi free kick. Khittah bahasa Arab. Indonesianya adalah GARIS
Pembatasan ruang gerak, bukan hanya berlaku pada permainan olahraga saja. Seperti lapangan bola kaki yang berbentuk empat segi mempunyai garis-garis yang mebatasi rung gerak para pemainnya, dengan ukuran 100 X 80 meter. Lapangan volly bal 6 X 12 meter. Lapangan tenis meja meskipun bermain di atas meja berwarna hijau berukuran ... X.. meter tetap dibatasi garis warna putih. Begitu juga pertandingan sumo di negeri Jepang kelihatan lapangannya bulat juga ada garis pembatas. Termasuk juga lapangan atelatik lempar lembing, lari meraton, lompat tinggi tetap dibuat garis pembatas atau garis finish.

WAK LEH TA'ALA...

WAK LEH begitu panggilan orang-orang Gampongnya untuk Bang Muhammad Saleh. Dia berperawakan  gemok-gomrot. Di setiap warung kopi  Wak Leh selalu tampil sebagai bintang orasi. Bila Wak Leh muncul diwarung kopi, selalu ada opini atau gosip yang dikembangkan olehnya. Wak Leh suka sekali agar teman-temannya memuji isu atau gosip yang ditebarkannya.

Akhir-akhir ini teman-temanya mulai tidak percaya lagi 100 persen informasi yang digembar gembor Wak Leh itu. Namun ia tidak kalah akal liciknya, lalu Wak Leh mendekatkan diri dengan para pimpinan partai politik, karena Wak Leh berkepingin ingin menjadi senator alias anggota DPRD setempat. Usaha ini pun gagal hasil pemilu lalu ia tdk terpilih menjadi anggota DPR. Kali ini ia ingin mengembangkan diri di dunia pencak silat, suatu keahlian yang di terima Wak Leh dari indatunya dahulu kala.  Maka Wak leh kini punya perkumpulan silat dan karate. Kemudian Wak Leh pun mulai terjun dunia Olahraga. Pokoknya Wak Leh ingin menampakan pada teman-temannya kalau dia itu serba bisa. Mulai tukang gosip sampai dunia persilatan dan perpolitikan ia kuasai. Begitu lah sepintas profil Wak Leh alias Bang Muhammad Saleh

KETIKA WAK LEH BATAL KHUTBAH


Ramadhan lalu, WakLeh gagal untuk menjadi muazin di Meunasah kampungnya. Kini sudah tiga bulan Wak Leh menetap di Jakarta. Sehari-hari Wak Leh berkantor di Jalan KHA Dahlan Jakarta Pusat, bergabung dengan salah satu NGO/LSM yang bergerak bidang politik dan keamanan (Polkam).

Dana sponsor dari salah satu NGO Internasional dari Jerman dan Belanda. Penampilan sehari-hari sangat menyakinkan. Wak Leh selalu memakai dasi baju kemeja lengan panjang, sesekali lengan pendek. Bahkan lebih sering mengenakan baju jas warna hitam atau merah. Sepintas kelihatan penampilan Wak Leh seperti anggota legislatif atau para eksekutif muda yang lagi naik daun di ibu kota Jakarta.