Plah trieng bahasa indato orang Atjeh. BELAH BAMBU bahasa Indonesianya. Bagi generasi muda sekarang umumnya pekerjaan ini tidak pernah disaksikan. Apa lagi kalau bagi anak-anak yang lahir dan besar dikota.
Tetapi kalau pertanyaan yang sama kita tujukan kepada Abdullah Puteh (mantan gubernur Aceh), Pak Irwandi Yusuf (Mantan Gubernur yang juga mantan kombatan GAM), Pak Prof Syamsuddin Mahmud (mantan Gubernur Aceh). Tgk Malek Mahmud (Wali Nangroe Atjeh sekarang), Muzakir Manaf alias Mualem wakil Gubernur Aceh sekarang, atau Bung Surya Paloh Ketua Umum Partai NasDem di Jakarta, dan beberapa tokoh lain yang rata-rata sudah berusia di atas 50 tahun, dan latar belakang kehidupannya dipedalaman Aceh, budaya dan peristiwa Plah trieng tetap bisa dikenang dan dengan gampang diceritakan pada generasi muda sekarang.
Pertanyaan dari generasi sekarang, kenapa dan untuk apa bambu itu dibelah? Jawabannya sedehana saja.
sekitar tahun 1970 sampai 1980-an lalu, mungkin rentang waktu masyarakat pingiran kota mulai tertarik menata perkarangan halaman rumah dan perkebunan mereka memagar dengan kawat duri, atau beton, atau beton dari batu bata. Sehingga kelihatan pagar perkarangan rumah dan kebun mereka indah dan menarik.
Begitulah tuntutan zaman, masyarakat mulai mengikuti arus kemajuan zaman moderen. Akibatnya budaya masyarakat pingir kota, dulunya pagar rumah dan perkarangan perkebunan sudah mulai secara pelan-pelan ditinggalkan budaya pagar yang terbuat dari bambu yang dibelah empat atau delapan.
Pekerjaan membelah bambu tidak lah mudah. Apa lagi mencari bambu dalam semak-semak rerempunannya membutuhkan perjuangan yang cukup berat, sehinga bagi pekerja membelah dan mencari batang bambu membutuhkan perjuangan berat dan bisa tergores sebagaian tubuh yang membuat sang pencari bambu itu berdarah-darah.
