Jumat, 14 Juni 2013

PLAH TRIENG....!!!


Plah trieng bahasa indato orang Atjeh. BELAH BAMBU  bahasa Indonesianya. Bagi generasi muda sekarang umumnya pekerjaan ini tidak pernah disaksikan. Apa lagi kalau bagi anak-anak  yang lahir dan besar dikota. 

Tetapi kalau pertanyaan yang sama kita tujukan kepada Abdullah Puteh (mantan gubernur Aceh), Pak Irwandi Yusuf (Mantan Gubernur yang juga mantan kombatan GAM), Pak Prof Syamsuddin Mahmud (mantan Gubernur Aceh). Tgk Malek Mahmud (Wali Nangroe Atjeh sekarang), Muzakir Manaf alias Mualem wakil Gubernur Aceh sekarang, atau Bung Surya Paloh Ketua Umum Partai NasDem di Jakarta, dan beberapa tokoh lain yang rata-rata sudah berusia di atas 50 tahun, dan latar belakang kehidupannya dipedalaman Aceh, budaya dan peristiwa Plah trieng tetap bisa dikenang dan dengan gampang diceritakan pada generasi muda sekarang.


Pertanyaan dari generasi sekarang, kenapa dan untuk apa bambu itu dibelah?  Jawabannya sedehana saja.
sekitar tahun 1970 sampai 1980-an lalu,  mungkin rentang waktu masyarakat pingiran kota mulai tertarik menata perkarangan halaman rumah dan perkebunan mereka memagar dengan kawat duri, atau beton, atau beton dari batu bata. Sehingga kelihatan pagar perkarangan rumah dan kebun mereka indah dan menarik. 

Begitulah tuntutan zaman, masyarakat mulai mengikuti arus kemajuan zaman  moderen. Akibatnya budaya masyarakat pingir kota, dulunya pagar rumah dan perkarangan perkebunan sudah mulai secara pelan-pelan ditinggalkan  budaya pagar yang terbuat dari bambu yang dibelah empat atau delapan.

Pekerjaan membelah bambu tidak lah mudah. Apa lagi mencari bambu dalam semak-semak rerempunannya membutuhkan perjuangan yang cukup berat, sehinga bagi pekerja membelah dan mencari batang bambu membutuhkan perjuangan berat dan bisa tergores sebagaian tubuh yang membuat sang pencari bambu itu berdarah-darah. 

Riwayat BENGKUPI: Dulu dan Sekarang



Ini cerita dulu

Dahulu kala, yang waktunya tak terpastikan, di Aceh, khususnya di Kabupaten Bireuen, terdapat begitu banyak bank (baca; beng), terletak di sudut-sudut gampoeng atau di wilayah perkotaan. Kala itu, setiap gampoeng, pasti memiliki minimal satu beng.
Beng yang dimaksud bukan nama beng yang kita kenal seperti sekarang ini; sebagai tempat simpan pinjam uang. Dahulu, baik warung, kios, toko, atau tempat-tempat jajanan lain dikenal dengan beng.
Disebut beng, karena di tempat itu berlangsung segala macam transaksi, tapi bukan jual beli. Di beng, orang saling bekerjasama sama untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari, baik kebutuan pokok rumah tangga, dan kebutuhan lainnya, baik skunder maupun tersier. Transaksi itu tidak berbentuk jual beli seperti sekarang ini, melainkan dengan cara barter.

Misalnya, Anda butuh segelas kopi, saya butuh sebambu beras. Saya akan menyedikan segelas kopi, dan Anda memberikan saya sebambu beras. Begitulah perumpamaannya. Dan semua itu berlangsung di beng, salah satunya beng kupi.


Kamis, 13 Juni 2013

Politisi Kampungan



Setiap anggota DPR, baik tingkat daerah dan pusat. Setiap tahun ada saja kunjungan ke daerah-daerah. Seperti yang dialami Pak Usman. Kali ini ia mendapat jatah melakukan kunjunagan kerja selama seminggu (7 hari) penuh. Sepulang dari perjalanan. Sesampainya dirumah, bercerita kepada isterinya tentang perjalanan dinas luar kota.

Kali ini, perjalanan jauh dan capek. Katanya, kalau bukan karena tugas dinas mungkin Ayah ngak kan ikut kunjungan ini. Isterinya yang lulusan S1 bidang Pendidikan salah satu Perguruan Tinggi Swasta, senyum kecil sambil menganguk-anguk kepala. Berarti Isterinya juga sependapat dengan pendangan Pak Usman. Namun, Ibu Hendon isti Pak Usman ini, terus membolak balik isi kopor besar yang dibawa pulang dari kunjungan kerja sang suami tercintanya itu.

Jumat, 07 Juni 2013

KUDA HITAM



Kuda hitam mengandung makna ganda. Di dunia olahraga, tim kuda hitam julukan untuk tim tangguh yang diperhitungkan tampil sebagai juara. Di dunia politik, kuda hitam dianggap sebagai sosok alternatif yang diyakini mampu mengemban aspirasi rakyat serta menjadi harapan masyarakat untuk memperbaiki keadaan.
Akibatnya, ‘kuda hitam’ ini sering menjadi sumber pemberitaan pers, diburu dan mendapat tempat istimewa di kalangan jurnalis. 

Panjat Pinang......!!!


panjat pinang [taufanwijaya.wordpress.com]
[quote]Oleh Mustafa A Glanggang[/quote]
MULUTNYA komat-kamit, seperti orang membaca mantra. Di depanya lalu lalang beragam jenis kendaraan, termasuk mobil mewah. Ketika suara azan Ashar berkumandang barulah mulutnya berhenti. Si penguyah sirih campur pinang dibelah empat itu namanya Kak Tihawa. Bibirnya merah bagaikan delima.