Konon di zaman dulu hidup seorang raja yang populer dengan pangilan RAJA JEUNGKI . Padahal nama aslinya adalah Firdaus Al-Mamfaruqi bin Ishaq Maulana alias Thoa Ching Tuk. Ia merupakan keturunan kedelapan dari keturunan Dinasti Ming, salah satu Dinasti di Cina. Tapi ibunya berdarah India belakang. Dengan demikian, kombinasi keturunan dua suku bangsa itu menyebabkan Firdaus Al-Mamfaruqi , Persis seperti bintang film India meskipun mata sipitnya tetap kelihatan.
![]() |
| gambar google |
Itulah si RAJA JEUNGKI. Pada saat itu, negerinya tidak semakmur negara-negara sekarang tetanganya yang lain. Penyebabnya mungkin lantaran mata pencaharian hanya bertani padi. Karenanya devisa negara pun, mau tidak mau, hasil dari pajak panen padi. Pajak itu dikenakan kepada setiap penduduk yang berada dibawah kekuasaan RAJA JEUNGKI. Cara pengaturan pajak pemberian lebel (daftar) yang dikeluarkan oleh kerajaan pada semua jeungki (alat penebuk padi). Lalu tercatalah sekitar 1.000 jeungki yang dianggap sah yang beroperasi oleh pihak kerajaan. Apabila ada masyarakat yang membuat jeungki secara ilegal, yang bersangkutan diancam dengan hukuman mati. "Saudara saya perintah perintahkan untuk melaksanakan tugas dengan baik," titah raja kepada anak buahnya.
Langkah selanjutnya ialah kepada setiap pemilik jeungki yang ingin menumbuk padi diwajibkan pajak 25 persen dari hasil tumbukannya. Dan, akhirnya, peraturan pajak jeungki berlaku untuk semua masyarakat tanpa pandang bulu. Di balik semua peraturan pajak jeungki itu, rakyat merasa tertekan. Sebab, penghasilan mereka hanya satu-satunya dari hasil panen padi. Semetara raja bersenang-senang dengan hasil jerih payah petani kecil. Buntutnya disetiap sudut desa, masyarakat berdoa semoga Raja Jeungki terbuka hatinya, nyakni bersedia menurunkan pajak jeungki itu. Disamping itu, ada juga yang melakukan tindakan -tindakan ekstrem pada rajanya. Misalnya, ada kelompok masyarakat yang berdoa secara kusus supaya Raja Jeungki itu cepat mati. Selebihnya, ada juga kelompok radikal yang ingin melakukan teror atau gerakan di bawah tanah untuk mengulingkan sang Raja Jeungki itu.
Walaupun demikian, Raja Jeungki tetap selamat dari semua keinginan negatif rakyatnya. Dan, pada suatu hari Raja Jeungki memanggil putra sulungnya sebagai calon penurus kerajaan jeungki. Ia bertitah, "Wahai anaku, usiaku kini sudah lanjut. Jika aku mati nanti, tolong rehabilitasi nama baik ku. Selama ini masyarakat memandangku sangat jelek," Begitulah pesan raja kepada putra mahkotanya.
Enam bulan kemudian, Raja Jeungki pun meninggal dunia. Secara otomatis tampuk kerajaan beralih pada putra sulungnya itu. Karena ada wasiat supaya nama baik raja dipulihkan--karena semasa hidupnya suka memeras masyarakat dengan pajak Jeungki---maka program tersebut menjadi prioritas putra mahkota dalam awal-awal kepemimpinannya.
Langkah pertama ia keluarkan pengumuman tentang keberadaan Jeungki. Intinya, anatara lain meminta semua jeungki yang ada dalam negeri dihapus. Yang tinggal hanya satu, yaitu Jeungki di istana Raja. "Saya ingin merehab nama baik orang tua saya. Silakan saudara menumbuk padi pada jeungki kerajaan tanpa dikenakan pajak," begitu isi pidato singkat Raja Muda itu didepan masyarakat umum.
Tentu saja masyarakat menyambut dengan gembira kebijakan raja muda. Meski tidak ada lagi jengki dirumah meraka, mulai saat ini mereka sudah terbebas dari pungutan pajak. Kemana saja raja Muda melakukan kunjungan kerja. ia selalu mendapat pujian, bahkan berlebih2an, terutama bila dibandingkan dengan orang tuanya. "Ini celaka dua belas. Saya menginginkan supaya alamarhum Ayah saya dipuji, mala dicaci maki. Saya yang justeru mendapat pujian," Raja Muda mulai membatin.
Sehubungan dengan itu, Raja Muda lalu mengeluarkan instruksi kedua. "Sekarang jeungki tetap satu, yaitu milik kerajaan. Setiap anggota masyarakat yang ingiin menumbuk padi harus membayar pajak di atas 25 persen," Begitulah isi pengumuman itu. Terhadap kebijakan kedua ini, Raja Muda mendapat caci maki, tetapi, Raja Muda merasa puas karena dengan kebijakan itu nama baik orang tuanya menjadi lebih terhormat. Sebab, Raja Jeungki dulunya, hanya mengenakan 25 persen pajak dan dibolehkan ada Jeungki di setiap rumah. Raja Muda malah berusaha lebih menyengsarakan rakyatnya dibandingkan dengan RAJA JEUNGKI..
Catata : Tlisan ini sudah dimuat dibuku Coloteh Budaya Politik Aceh, halaman 29, diterbitkan oleh Dewan Kesenian Banda Aceh (DKA) tahun 2003.


berharap terlalu tinggi pada pemimpin yang akan datang malah nyatanya lebih parah dari pemimpin sebelumnya!!!!!! nyan cok rasa...rupanya lebih sengsara dari sebelumnya....NASIBBBBB
BalasHapusnyan that gura di raja nyan...
BalasHapus