Rupanya Wak Leh pada Pemilu 2009 lalu, terpilih sebagai anggota legislatif (DPRD) salah satu kabupaten di Aceh. Masyarakat pendukung pada umunya adalah para tokoh pemuda kelas bawah. Wak Leh setelah Tsunami di Aceh baru pulang dari Jakarta, pada saat konflik dan Darurat Militer (DM) ia hijrah ke ibukota.


Sekembali dari Jakatra, ia bekerja sebagai salah seorang tenaga lapangan pada sebuah NGO/LSM. Maka bila disebut nama Wak Leh, hampir semua desa mengenalnya sebagai pekerja sosial dalam masyarakat.
Setiap ada warga yang mengalami musibah seperti kematian atau pesta perkawinan, Wak Leh selalu diundang pada acara yang dinilai sakral itu. Bukan hanya itu, acara sunatan rasul anak warga, juga mendapat undangan, sehingga kepopuleran Wak Leh, melebihi dari lembaga MANO BEUBASAH disingkatkan (MB), yaitu sebuah LSM tempat Wak Leh bekerja, kantor pusat di Banda Aceh.
Seperti biasanya, Wak Leh selalu tampil disetiap pertemuan di balai desa, sebagai salah seorang nara sumber yang menjelaskan pengunaan dana pinjaman yang diberikan oleh LSM MB, dengan sistem bergulir atau revoving. Dalam penjelasan Wak Leh selalu diselipkan kata-kata bersayap yang bernuansa politik. Misalnya, kalau di Jakarta lagi dibahas kasus daging impor yang melibatkan mantan Presiden PKS, atau kasus Hambalan yang menyeret sejumlah tokoh Partai Demokrat, maka Wak Leh pun mencoba menambah-nambahkan bumbu penyedap tentang kasus itu. Sehingga ia dinilai oleh peserta pelatihan itu sebagai tokoh politisi.
Apa lagi kasus demontrasi mahasiswa dan buruh disemua kota-kota besar di Indonesia yang berkenaan dengan pro kontar kenaikan BBM. Wak Leh pun tak ketingalan, mengulas dengan tajam tentang kenaikan BBM itu. Anehnya dalam setiap uraian itu, Wak Leh mengunakan jurus selamat. Artinya, kalau pendengar banyak tokoh politik lokal yang pendukung anggota DPR RI seperti Partai PAN, Demokrat, PKB, PPP dan seterusnya sebagai pendukung kenaikan BBM, Wak Leh juga ikut arus mendukung kenaikan BBM yang disahkan DPR RI.
Kalau ia berhadapan dengan tokoh-tokoh PKS, PDI atau Hanura yang menolak kenaikan BBM. Wak Leh juga ikut gaya kelompok kontra itu. Artinya ia maki-maki DPR yang mengesahkan UU Kenaikan BBM.
Sepintas memang karakter Wak Leh itu seperti tokoh oportunisme yaitu aliran pemikiran kemana angin berhembus, disanalah ia bergabung mencari rezki. Sehingga karakter semacam ini selalu selamat, bagaimanapun goncangan kondisi negeri atau suatu daerah yang bergejolak. Itu lah tipe pemikiran Wak Leh.
ANGGOTA DPRD
Menjelang Pemilu 2009 lalau Wak Leh direkrutla oleh sala satu partai sebagai bakal calong anggota legislatif (Baleg). Sebab, bagi pimpinan partai yang mencalonkan Wak Leh itu, bukan dilihat riwayat pendidikan, baik pendidikan umum maupun pendidikan agama. Namun mereka menilai bahwa Wak Leh mampu mepengaruhi masa utk mendapat kursi DPRD kabupaten yg mengantarkan Wak Leh menjadi anggota orang terhormat.
Singkat cerita, setelah Wak Leh dilantik menjadi anggota DPRD. Ia pun sudah mulai jarang mengunjungi warga desa, walaupun berulangkali diundang warga pada acara pesta perkawinan maupun acara2 sakral lainnya. Kini Wak Leh yang dulunya kemana2 pergi mengelilingi dari satu desa kedesa lain dengan sebuah kenderaan beroda dua Honda Supra.
Kini ia sudah memiliki kenderaan mobil Kijang Avanza yang dibeli denga sistem kredit. Tidak cukup disitu, mobil Wak Leh dengan nomor plat Polisi BL 2099....sudah ditandai benar oleh warga bila melintasi didepannya. Untuk menghindari masyarakat melihat Wak Leh di dalam mobil, dimemasangla kaca itam gelap di mobilnya. Sehingga bebaslah Wak Leh bila berpergian keman-mana tanpa ada yang usik dan usir.
Setelah bertugas hampir setahun. Wak Leh yang ditempatkan pada komisi D, yaitu komisi bidang pembangunan. Maka pimpinan DPRD itu dalam rapat musyawarah menetapkan masing-masing komisi untuk melakukan studi banding keluar Aceh. Tercatatlah komisi D, dibawah kepemimpinan Wak Leh mendapat jatah berkunjung ke Surabaya, Jawa Timur.
Rombongan Wak Leh ada 7 orang. 4 dari tujuh anggota DPRD itu tidak pernah naik pesawat tebang. Bahkan membaca tulisan latinpun tersendat2. Tapi keahlian mereka membaca tulisan arab jawi sangat mahir. Lolos ke DPRD berbekal ijazah paket C. Itulah anggota tim komisi D-DPRD yang dipimpin oleh Wak Leh.
Alkisah setelah tiga jam lebih menumpuh jalan darat ke bandara pulonia Medan. dipilihnya berangkat melalui Medan, karena jarak tempuh jalan darat antara Banda Aceh dengan Medan, lebih dekat ke Medan. Berarti ke tujuh anggota tm Wak Leh itu sudah lelah dalam perjalan dengan mobil kijang Avanza warna hitam.
Tepat pukul 13.00 wib pesawat akan terbang, anggota tim Wak Leh masih mengurus cek in tiket. Sisa waktu tinggal 20 menit lagi. Wak Leh memerintahkan semua anggota timnya terus memasuki ruang tunggu untuk selanjutnya naik kedalam pesawar Boing 777 Garuda Indonesia yang parkir tidak jauh dari terminal pemberangkatan itu. Sementara Wak Leh sendiri masih harus membeli bingkang ambon yang dibawa sebagai oleh-oleh untuk temannya di Jakarta.
Apa yang terjadi dalam pesawat?
Rombongan anggota DPRD itu kursi tempat duduknya, berada pada posisi di depan. Tapi karena ada anggota dewan yang tidak pernah naik pesawat, maka mereka memilih naik melalui tangga belakang. Sesampainya diatas pesawat itu, salah seorang anggota dewan itu merasa grogi dan kelihatan sudah pucat. Maka para petugas pramugari mencoba mendekati anggota dewan yang memakai kupiah reman yang terbuat dari ijok itam.
"Maaf pak. Apa yang bisa saya bantu," tanya Irma petugas pramugari.
"Ngak," singkat saja jawab kawan Wak Leh itu.
Pramugari itu pun melanjutkan pertanyaannya.
"Apa bisa saya lihat tiket bapak," minta Irma.
Sang 'senator' lokal itu pun mengeluarkan tiketnya sambil melihat-lihat temannya dari belakang dia terhalang dengan empat orang lain dalam lorong pesawat itu.
"O, tempat duduk bapak bukan disini? Tapi dieksekutif Pak," jelas Irma sambil memberikan senyum manisnya kepada anggota dewan ini.
"Apa kamu bilang," bentak anggota dewan ini. "Saya ini anggota DPR. Kamu tau," suara dewan itu semakin tinggi. Sehingga sejumlah penumpang disekitar itu tercenggang menyaksikan pertengakaran mulut antara anggota dewan dengan pramugari itu semakin memanas.
"Benar Pak. Tempat kursi bapak di eksekutif. Bukan disini," ulang Irma lagi. Dan, Irma pun kelihatan masih mempertahankan argumen nya. Namun anggota dewan ini pun sepertinya kurang bisa menerima disebutkan penempatannya dideretan eksikutif. Padahal memang benar kursi tempat duduknya pak dewan itu di deretan 2B.
Lagi sedang ribut-ribut itu, muncul Wak Leh dari lorong arah depan badan pesawat, karena waktu Wak Leh masuk ke dalam pesawat melalui tangga dan pintu depan. "Pue nyan Tgk, ka neu meu pake lago," tanya Wak Leh pada sahabatnya dengan bahasa daerah, maksud Wak Leh bertanya kepada teman: "Ada apa Tgk kenapa ribut-ribut, seperti orang bertengkar saja," ujar Wak Leh.
"Kon lagenyan hai Leh. Jipegah lon eksekutif. Pane kuterimong. Ka ji peutron pangkat lon le sidara nyo," jawab kawan Wak Leh itu. Maksud kawan itu: "Bukan, saya tidak bisa menerima kalau disebut eksekutif. Berarti dia (pramugari) ini sudah menghina posisi saya," ujar teman Wak Leh itu.
Setelah dijelaskan oleh Wak Leh. Baru lah kawanya yang 'arogan' itu baru mengetahui. yang dimaksudkan tempat duduk eksekutif itu adalah tempat dudukanya terhormat setingkat VIP.
Tapi sebelumnya, kawan Wak Leh berpikir tempat duduknya yang disebut EKSEKUTIF itu kusus untuk pejabat seperti Bupati, Gubernur, para menteri. Itu lah sebabnya kawan Wak Leh itu perotes keras, karena dia adalah anggota DPR, seharusnya tempat duduknya ada harus disebut LEGISLATIF bukan EKSEKUTIF.
Alahmak memalukan.......

MANTRAPPPPP TULISAN NJOE, SANG BIT2 KEJADIAN....HAHAHAHAA
BalasHapusBek peugah peugah bak gob....:D
BalasHapusPeungah Haba Lua Naggroe, Ijazah Paket c.
BalasHapusKondisi ini mungkin sedang kita tonton......
BalasHapus