Jumat, 14 Juni 2013

"PANG BAYAK" SANG CUW'AK


Ini kisah pada zaman kerajaan raja-raja  Aceh tempoe doeloe. Karena tuntutan zaman revolusi penjajahan meletus, kekuasaan dan wibawa sang raja mulai terusik. Akibatnya, rakyat pun mulai buka mulut menuntut perlakuan keadilan terhadap mereka sesuai dengan prinsip-prinsip kemanusiaan. Begitulah sang waktu berjalan begitu cepat. Lalu, Indonesia pun merdeka, sehinga kenangan dinasti "Raja-Raja" hanya tinggal sebagai catatan sejarah bangsa Indonesia. 

Dari sekelumit catatan, tersebutlah  seorang aktor pelaku pahlawan bermental  tempe pada zaman kerajaan Aceh tempoe doeloe. Namanya ialah PANG BAYAK. Bila seseorang telah diberikan gelar cuw'ak, integritas kepribadiannya mulai diragukan.


Dulu Pang Bayak dikenal sebagai pelobi ulung, mediator dalam mempertemukan dua kepentingan yang berbeda. Tapi karena keterbatasan fasilitas, termasuk power, satu-satunya kemampuan yang dimilikinya ialah kepercayaan yang diberikan sang raja. Ia mulai mengolah kepercayaan tersebut menjadi komoditas untuk "diperjualbelikan" dengan harga murah. 

Tak ubahnya ibarat seorang makelar sepeda bekas di pasar loak. "Laku atau tidaknya  transaksi sepeda bekas, bagi seorang agen sepeda tetap ada untungnya.Menurut sebuat hisabul hikayat Aceh, Pang Bayak adalah kepercayaan sang maharaja di Raja. 

Bahkan dalam keadaan tertentu, bila sang raja berpergian melakukan kunjungan kerjanya, atau melakukan lawatan kusus ke negeri lain. Pang Bayak tetap diikut sertakan dalam rombongan Tuanku maharaja itu. Begitulah kepercayaan Maharaja  kepada Pang Bayak.

Tapi, diam-diam  Pang Bayak melakukan aksi "kontaminasi politik" kepada Sang Raja. Kalau dulu semua informasi yang disampaikan Pang Bayak benar 100 persen, kini mulai dicampur dengan opini pribadi sehinga raja terkecoh. Sikap kemunafikan Pang Bayak, bermuara kepada praktek politik 'asal bapak senang' (ABS) atau politik asal saya selamat (ASS). 

Ini tergolong perbuatan keji Pang Bayak. Sebab, demi kepentingan politik "ASS"-nya,  semua informasi yang bisa menimbulkan  kerusuhan  kekuasaan Maharaja mulai dibeberkan kepada lawan politik Majaharaja. Sebaliknya, Pang Bayak tetap bersikap lemah lembut terhadap Maharaja.

Begitulah kisah singkat cerita kepahlawanan Pang Bayak. Dan, suatu ketika, Maharaja berbeda pendapat secara sangat tajam dengan beberpa  staf pembantu utamanya. Pang Bayak muncul sebagai pemicu paling berbahaya. Kalau dulu Maharaja tidak ada yang berani membantah titahnya, kini secara diam-diam pembantu utamanya melakukan aksi protes. 

Kondisi yang rawan itu terus dimanfaatkan oleh Pang Bayak dengan sasaran utama Sang raja bisa jatuh sehingga posisi penting akan berada ditangan Pang Bayak. Tapi akhir dari perjalanan Pang Bayak diketahui oleh Raja. Karenanya, Pang Bayak terpaksa 'menelan'  pil pahit yang diberikan Raja. "Selamat jalan wahai Pang Bayak." kata Raja."Engkau terpaksa ku hukum . 

Karena engkau pengkhianat perjuangan," tambah raja, "Oh, Tuan ampunilah hamba ini," sembah Pang Bayak. "Semuanya sudah terlambat. Nasi sudah menjadi bubur. Aku ini raja di negeri ini. Sekali aku bertitah, maka titahku ini adalah keputusan. Titik," kata raja dengan nada  tegas.

Itulah sekelumit kisah Pang Bayak yang lebih populer disebut CUW'AK. Lalu bagaimana dalam kenyataan zaman sekarang, terutama saat menghadapi pemilihan umum (Pemilu) atau pemilihan kepala daerah (Pilkada) pesta politik rakyat. Masih adakah tokoh-tokoh politisi bermental Pang Bayak. Itulah pertanyaan  yang harus dijawab.  kalau ada, suatu saat dosa sebagai pelacur politik demi mencapai tujuan pribadi, pasti akan dirasakan. Semoga saja Pang Bayak hanya ada dalam catatan sejarah Aceh Tempoe Doeloe.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar